Pengabdian dan perbudakan……
Bagi orang pada umumnya, kedua hal ini sangatlah berbeda dan bertolak belakang. Pengabdian lebih bernada positif, sedangkan perbudakan cenderung negatif.
Namun, saat mentari bersinar tadi, tiba-tiba melintas sebuah tanya, “Benarkah pengabdian dan perbudakan mempunyai perbedaan besar?”
Otak berputar kembali, menjelajahi jawaban atas pertanyaan yang sama sekali tidak penting yang muncul di saat yang tidak penting juga. Terdiam. Menganga. Sambil melihat sebuah karya sinema yang semakin menjauh dari alam pikiran.
………………………………………….Siinnggg………………………………………………
Ludah tertelan…..sama sekali tidak penting…..
Cringgggggggg………pengabdian adalah sebuah penyerahan diri, kerelaan untuk mengorbankan diri kepada sesuatu yang dianggap luar biasa bagi diri. Tuhan, Negara, Kesatuan, bahkan Keluarga….adalah beberapa dari sekian banyak hal yang menjadi sasaran pengabdian.
Krikkkkkkkkkkk……..sebaliknya, perbudakan adalah sesuatu yang terjadi disaat pihak dominan dan berkuasa “menjajah” atau menindas pihak lain yang lebih lemah dan tak berdaya. Iblis, Penjajah, Musuh, dan Nafsu….adalah beberapa dari sekian banyak hal yang menyebabkan perbudakan.
Huh…….ini kenyataan dalam batin subjektifitasku…………
Jawabannya belum kutemukan…tapi satu hal…semuanya bersumber dari dalam diri. Pada perbudakan, bila kita menganggap itu adalah sebuah pengabdian tentu akan berdampak luar biasa terhadap cara pandang kita. Begitu juga dalam pengabdian, kita dapat melihat juga dari sisi bahwa itu adalah perbudakan.
Intinya, hanyalah pilihan sisi untuk melihat…pengabdian dan perbudakan bagai 2 sisi mata uang. Berbeda jauh, namun tetap lengket dalam satu jiwa pribadi manusia. Perbedaan itu, terletak di cara pandang. Bila perbudakan, maka paksaan ada di luar jiwa. Bila pengabdian, paksaan itu muncul dari dalam diri dan sukarela.
Tidak penting dan muncul di saat yang juga tidak penting.
Berbagi