BBM naik sepertinya sedang menjadi isu penting sebulan terakhir ini. Gejolak yang terjadi nampaknya tak lagi dapat dihindari. Mulai dari kemiskinan, isu politik, demonstrasi, hingga bencana alam selalu jadi pemandangan sehari-hari di media massa. Semuanya dapat dikaitkan dengan kenaikan harga BBM. Namun ada satu jenis peristiwa yang cukup menarik perhatian saya sebagai seorang mahasiswa dan bagian dari kaum akademis.
DEMONSTRASI sepertinya sudah menjadi aktifitas yang tidak terpisahkan dari keseharian kami. Aktifitas yang tidak akan pernah lenyap ditelan jaman ini selalu ada mengiringi perjalan negara dari jaman ke jaman. Angkatan per angkatan pun bergiliran untuk menunjukkan eksistensinya di dalam membela kepentingan rakyat dan juga penyeimbang pengawasan pemerintah di dalam penyelenggaraan negara. Angkatan 45, angkatan 66, atau angkatan 98 merupakan beberapa contoh angkatan yang menonjol dan menjadi saksi perubahan negara menuju Indonesia yang diharapkan leih sejahtera. Para mahasiswa begitu gigih memperjuangkan rakyat dan keadilan atas sebuah negara yang Demokratis, mereka luka-luka, bahkan tidak sedikt yang meninggal dunia. Ini adalah sebuah realita jaman di Indonesia.
Namun, sayangnya tidak semua usaha ini nerjalan sesuai dengan yang diharapkan. Tidak usah bicara soal pertentangan mahasiswa dengan berbagai pihak eksternal seperti kepolisian, militer atau wakil rakyat, kini kita bicara soal internal dulu. Isu BBM menjadi penting belakangan ini karena menimbulkan pro dan kontra dari berbagai pihak. Ada yang mendukung dengan mengatakan bahwa harga BBM memang harus naik karena harga dunia naik, dan bila tidak dinaikkan maka Indonesia akan mengalami kesulitan keuangan negara. Tetapi banyak juga yang bilang bahwa BBM tidak seharusnya naik, masih banyak opsi lain untuk menjaga keuangan negara, pemerintah pun dituduh tidak pro rakyat, salah satu yang “berteriak” kencang soal ini lagi-lagi sang Pahlawan Akademis MAHASISWA. Masalahnya, dalam pelaksanaan protesnya ini, di dalam kalangan mahasiswa sendiri terjadi perbedaan pendapat (yang katanya wajar karena demokrasi), antar universitas belum tentu menyuarakan suara dan harapan yang sama, walaupun mungkin titik tolaknya sama yaitu menuntut pemerintah menurunkan harga BBM. Mahasiswa seperti menyuarakan suara yang tidak senada (kalo paduan suara, mungkin dapat dikatan Fals). Mahasiswa kampus A ingin berdiskusi langsung dengan para wakil rakyat, Mahasiswa kampus B ingin langsung menuntut presiden di pengadilan, Mahasiswa C ingin menggunakan cara-cara yang lebih radikal untuk menuntut perhatian pemerintah terhadap rakyat (membakar ban, menutup jalan, mencoret-coret mobil pemerintah), sedangkan Mahasiswa kampus D malah sibuk tawuran dengan Mahasiswa kampus lain dengan alasan yang sama sekali tidak jelas.
Mahasiswa terpecah-pecah menjadi sempalan-sempalan di antara teriakan masyarakat atas kenaikan BBM ini. Pertanyaannya, bagaimana mau menyampaikan aspirasi dengan benar bila suara saja tidak satu?. Atau jangan-jangan apa yang dilakukan para mahasiswa ini justru akan menambah beban masyarakat sipil yang sudah sangat berat.
Berita TV hari ini menampilkan wajah mahasiswa di mata masyarakat…Salah satu kampus di daerah Cawang contohnya, memilih memblokir jalan untuk protes atas kenaikan BBM, setelah sebelumnya juga bentrok dengan aparat. Masyarakat yang menggunakan jalan raya sebagai fasilitas umum tentu saja terganggu. Dan salah seorang perwakilan dari masyarakat yang merasa terganggu memohon dengan sangat santun dan lembut kepada para mahasiswa yang sedang “panas” untuk membuka kembali jalan yang diblokir agar masyarakat bisa lewat. Perwakilan masyarakat itu menambahkan dengan pengandaian bagaimana jika ada orang sakit yang harus segera dibawa ke rumah sakit atau keadaan darurat lainnya, namun terjebak kemacetan karena pemblokiran itu. Apa yang menjadi tanggapan mahasiswa?Bukannya membuka jalan, malah berteriak bahwa pemerintah harus bertanggung jawab, semuanya pemerintah, padahal orang-orang pemerintahan belum tentu ada di tempat itu. Mahasiswa itu terus meneriakkan berbagai alasan-alasan yang tidak masuk akal dan tidak nyambung dengan keadaan yang sedang dialami masyarakat pada saat itu di tengah kemacetan. Pemblokiran tetap dilaksanakan hingga perwakilan rakyat itupun mengatakan “Astafirugllah…”.
Kejadian ini hanya salah satu contoh bentuk pencorengan cita-cita luhur DEMONSTRASI oleh mahasiswa terkait harga BBM. Masih banyak kejadian lain yang sejenis, mahasiswa semakin terpecah belah menjadi sempalan-sempalan batu sandungan masyarakat. Para politisi busuk semakin tertawa melihat ini, mereka merasa menang atas perjuangan menegakkan keadilan yang kalah sebelum berhadapan langsung dengan faktor eksternal mahasiswa .Apa ini potret mahasiswa Indonesia sebenarnya?, kemana perjuangan reformasi yang merupakan bentuk persatuan dengan masyarakat?
Jika benar…Menyedihkan…..
Saya sebagai salah seorang mahasiswa………..MALU
-UNTUK INDONESIA-
Berbagi